Pilot Oleng Bikin Heboh

Posted on

Pilot Oleng Bikin Heboh

Heboh suara meracau Captain Tekad Purna Agnimartanto saat memberikan pengumuman kepada para penumpang dalam persiapan penerbangan QG-800 rute Surabaya-Jakarta, disusul munculnya video CCTV berisi rekaman kondisi Captain Tekad yang kelihatan teler saat memasuki gerbang metal detector, sontak menggegerkan masyarakat tanah air Ba ny a k y a ng b e r t a ny a-t a ny a , b a g a i m a n a b i s a s e o r a ng p il o t yang jelas-jelas terlihat oleng di gerbang pemeriksaan itu lolos begitu saja? Bukankah para petugas di area security check yang melihat langsung tingkah laku aneh pilot tadi seharusnya melakukan tindakan pencegahan? Captain Tekad Purna Agnimartanto, pilot Citilink Indonesia kedapatan berjalan sempoyongan dan meracau saat memberikan pengumuman dalam persiapan penerbangan QG-800 rute Jakarta-Surabaya. Akibat kejadian tersebut, Capt. Tekad langsung diperiksa oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mencabut lisensi terbang pilot tersebut.

Keputusan itu diambil karena Kemenhub sudah mengantongi bukti-bukti yang cukup bahwa si pilot telah melakukan tindakan yang menyimpang. Pengamat penerbangan, Alvin Lie, sangat menyayangkan terjadinya peristiwa yang memalukan ini. Ia juga amat prihatin terhadap maskapai Citilink yang harus menelan pahit getirnya kasus ini. Padahal maskapai yang berdiri pada tahun 2001 sebagai operator penerbangan bertarif rendah ini baru saja diizinkan terbang ke langit Eropa dan Amerika Serikat pada tahun 2016. Menurut Alvin, dalam kasus tersebut ada 3 hal yang patut disorot, yakni fenomena dibiarkannya pilot Tekad lolos melewati area security check padahal penampilannya jelas mencurigakan, diizinkan pilot tersebut masuk ke kabin meskipun datang terlambat, dan lemahnya sistem perekrutan SDM di Citilink. Ihwal dibiarkannya pilot Tekad lolos melewati security check, Alvin menegaskan bahwa fungsi avsec (aviation security) adalah mema stikan keamanan ser t a keselamatan penerbangan, dan semua itu dimulai dari titik pemeriksaan di bandara. Apabila para petugas tadi menemukan halhal yang dapat mengancam keamanan serta keselamatan penerbangan, mereka harus melakukan langkah-langkah pencegahan. “Sayangnya, kebanyakan avsec di Indonesia ini galak kepada penumpang tapi mati kutu saat berhadapan dengan petugas protokol berbagai pejabat. Mereka juga minder saat menghadapi awak pesawat, terutama pilot,” tutur Alvin. Sementara menurut Captain Imron Captain Imron, Ketua Dewan Pengawas JAPRI (Ketua Dewan Pengawas Jaringan Penerbangan Indonesia/JAPRI), sebenarnya p e t u g a s a v s e c b u k a n l a h f i l t e r a t a u penyaring utama untuk pencegahan kru yang unfit. Captain Imron juga merasa kasihan jika avsec dibebankan urusan safety (keselamatan). “Sebab, untuk urusan keamanan saja mungkin mereka masih takut menghadapi aparat dan pejabat yang masuk ke airport tapi menolak diperiksa,” tuturnya. “Saya tidak pernah mendengar ada petugas security di luar negeri memeriksa fit atau tidaknya kru pesawat, atau menahan kru supaya tidak terbang. Kecuali kalau kru tersebut mengganggu keamanan, mengganggu orang lain, atau melanggar ketertiban,” katanya lagi. Captain Imron, yang pernah menjadi CEO Advisor-AirA sia Indonesia , jug a menjelaskan, di company operation manual terdapat aturan bahwa setiap kru yang akan terbang dalam satu tim harus melaksanakan briefing pilot dan cabin crew. “Di situlah crew saling ‘cross check’, apakah dalam keadaan baik, fit, dan legal untuk terbang. Kalau yang bersangkutan tidak melakukan briefing pilot dan cabin crew, maka di sinilah harusnya kita jadikan fokus utama investigasi,” tuturnya. Siapa yang Patut Dipersalahkan? Mengenai siapa yang patut dipersalahkan pasca lolosnya Captain Tekad dari security check, Captain Imron menyatakan urusan itu tidak bisa diputuskan begitu saja, karena tidak ada data dan evidence yang det ail. Ia lalu mencoba menjabarkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi yang menyebabkan masalah tersebut muncul. Misalnya tidak ditegakkannya reporting system dan punishment meskipun ada crew yang terlambat melakukan report for duty, serta tidak dilakukannya briefing pilot dan cabin crew. “Kalau dua hal tersebut dilaksanakan dengan benar, kru yang bersangkutan tidak bisa melewati pos security karena sudah tertahan di flight operations dan tidak akan masuk ke pesawat. Dokumen terbang yang biasanya harus dibawa terbang, seperti flight plan dan sebagainya, juga tidak akan ditandatangani,” paparnya. Karena itu Captain Imron menekankan petugas security agar fokus ke masalah security, bukan safety. Apalagi akhir-akhir ini ia melihat masalah security, yang notabene sangat rawan dijebol, belum yakin bisa tertangani. Lalu bagaimana jadinya kalau tugas avsec ditambah dengan keharusan mengurusi safety yang merupakan hal baru. “Kasihan petugas-petugasnya. Sebab, belajar hal yang baru itu tidak gampang. Selain itu, bisa jadi mereka nanti malah overacting saat menjalankan tugas hanya karena tidak mengerti dan tidak memahami prosedur safety,” ujarnya. S e n a d a d e n g a n C a p t a i n I m r o n , pengamat penerbangan Heru Legowo juga menyarankan agar semua pihak tidak mencari siapa yang patut dipersalahkan. Ia mengajak semua pihak mau mencari solusi. Sebab, menurut Heru, maskapai Citilinkpasti sudah memiliki standar operasional dan prosedur (SOP) yang benar. “Lalu jika akhirnya terjadi penyimpangan, apa tindakan yang mesti dilakukan? Cek lagi. Apakah Itu juga dijalankan dengan serius? Atau terlalu banyak excuse-nya sehingga lama-lama para kru itu immune atau merasa semuanya oke-oke saja. Itu tanggung jawab airline, bukan tanggung jawab pihak bandara. Jadi, airline-lah yang harus menyelesaikan. Makanya Dirut Citilink mundur,” paparnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *