monggo

Padukan Rencana Usaha Coklat Monggo dengan Budaya Jawa

Posted on

Sesudah penamaan “Cokelat Monggo”, Thierry mulai membenahi usaha cokelatnya lebih profesional. Dengan modal utang dari orang tuanya sebesar Rp 100 juta, Thierry mulai mempersiapkan semua suatu hal dari mulai bahan baku pembuatan, sistem produksi, paket sampai penjualan. Untuk produksi dikerjakan di satu pabrik yang ada di
Kotagede, Yogyakarta.

 

Thierry bercerita, pola usaha penjualan Cokelat Monggo yang akan dikerjakan sedikit tidak sama dengan product cokelat merk yang lain. Langkahnya, ia akan memadukan product Cokelat Monggo dengan budaya Jawa.

Lalu untuk memudahkan gagasannya itu supaya jalan, ia mempunyai rencana yang gampang dipahami oleh tim yang bekerja. Rencana yang dicetuskan Thierry yaitu CUEGS. CUEGS yaitu panggalan kata dari Care yang bermakna Perduli, Unique (Unik), Educate (Edukasi), Genuine (Asli) serta Berbagi (Membagikan kebahagian melalui cokelat).
“Kami kan miliki prinsip basic CUEGS. Kami care atau perduli, lantas kita unik serta educate yang bermakna makan cokelat itu bagus untuk kesehatan. Kita juga buat beberapa lambang dari Jawa lantaran kita menginginkan mengangkat Jawa. Sudah pasti cokelat kita miliki kwalitas, ” imbuhnya.

Aplikasi rencana budaya Jawa dapat diliat pada paket cokelat monggo yang banyak melukiskan lambang wayang. Lalu outlet penjualan juga di desain dengan arsitektur classic. Di dalamnya outlet penjualan, Thierry berniat memberikan beragam pernak-pernik khas Jawa. Langkah tersebut termasuk tepat untuk menghadirkan beberapa pembeli
dari beragam tempat.

monggo

“Banyak yang datang ke Cokelat Monggo lantaran kekhasan. Kwalitas serta style kita tetaplah nomer satu, ” sebutnya.

Persaingan Ketat di Usaha Cokelat

Tak gampang untuk Thierry Detournay berjualan Cokelat Monggo. Terlebih di dalam persaingan pasar cokelat didalam negeri yang makin ketat. Thierry mengakui agak sedikit kesusahan waktu mengenalkan Cokelat Monggo di pasar ritel serta supermarket. Hal ini dapat diperparah lantaran sebagian besar orang Indonesia malah lebih menyukai product cokelat impor dari negara lain.

“Dari sisi marketing banyak masalah. Masuk ritel serta supermarket begitu sulit serta berat. Lantas di kota spesifik seperti Semarang serta Surabaya sulit berkembang disana lantaran orang tak tertarik serta saya juga bingung. Namun product (cokelat) dari luar mereka malah lebih tertarik, ” kata Thierry.

Walau sebenarnya Thierry menilainya cokelat buatan dalam negeri tak kalah apabila dibanding product cokelat impor. Terlebih Cokelat Monggo yang mempunyai kwalitas premium serta memiiki cita rasa beda dari cokelat lain. Thierry menyampaikan Cokelat Monggo mempunyai kwalitas internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *