Coklat Monggo

Bisnis Coklat Monggo – Coklat Belgia Yang Kental Nuansa Jawa

Posted on

Sebab di situlah letak menantangnya indusrti ini. Kemudian, siap-siap pula orang orang di luar sana akan meniru setiap makanan yang anda buat, karena dalam bisnis ini orang tidak akan segan-segan melakukannya.

Bagaimana menurut anda artikel di atas tadi? Apakah cukup memberikan anda inspirasi?

Tenang, jangan lah berkecil hati, sebab nanti kami akan kembali lagi, menyuguhkan berbagai informasi yang akan menginspirasi hidup anda setelah anda habis membacanya.

Penasaran kan? Maka tunggu apalagi, tetap stay tune di website ini, bila perlu bookmark juga, supaya nanti tidak  lupa. Terima kasih telah membaca artikel ini , semoga selalu dan semakin bermanfaat pastinya. Inilah Tren Bisnis Kue yang Siap Menghangatkan Persaingan Bakery Business

Lalu, Thierry mulai mencari product cokelat di ritel serta supermarket di lokasi Kota bandung Sayangnya, rasa cokelat yang di jual di ritel serta supermarket tidak cocok dengan lidah Thierry. Ia juga mengambil keputusan untuk belajar bikin sendiri cokelat yang mempunyai cita rasa Belgia dengan sumber daya yang terbatas.

“Kemudian saya buat sendiri dengan belajar bikin cokelat. Sedikit susah lantaran resep segera dari Belgia, ” imbuhnya.

Coklat Monggo

Thierry pada akhirnya sukses bikin product cokelat pertama type truffle yang mempunyai cita rasa Belgia. Sesudah ia meyakini cokelat kelakuannya di rasa cukup enak serta cocok dengan cokelat asli Belgia, Thierry mulai tawarkan pada beberapa rekannya untuk sebatas mencicipi. Tak diduga, cokelat bikinannya banyak dipesan oleh rekan- rekannya yang telah mencicipi.

“Mereka katakan enak sekali, ” tuturnya dengan sumringah.

Lalu Thierry lebih semangat untuk bikin cokelat dengan jumlah yang semakin banyak lagi. Terkecuali jual pada beberapa rekannya, Thierry juga berkemauan untuk jual sendiri cokelat bikinannya. Pada akhirnya dia beli satu sepeda motor sisa type vespa yang telah tua berwarna pink. Vespa tua disulap jadi satu tempat berjualan yang unik.

Dengan vespa tua, ia jual cokelat tiap-tiap Minggu pagi di daerah sekitaran UGM serta di daerah luar Gereja Kota Baru. Product cokelat yang di buat Thierry di jual dengan harga Rp 2. 000/pcs. Maksudnya waktu itu cuma untuk kesenangan dan mencari ketertarikan serta reaksi dari orang-orang bukanlah untuk mencari keuntungan.

“Itu vespa lama serta warnanya pink waktu saya beli, namun jadi display menarik untuk menempatkan cokelat, jadi lucu. Kita jual tiap-tiap sunday morning di UGM. Kita cuma berjualan disana. Itu cuma iseng saja lantaran belum miliki pengalaman apa-apa, ” katanya.

“Saya mencari nama hingga ke kamus lantaran saya menginginkan rencana yang baru. Saya menginginkan bikin cokelat ini jadi oleh-oleh khas dari Yogyakarta. Dengan cara tersebut kita miliki kans Yogyakarta itu miliki cokelat, ” tuturnya.

Thierry serta tim berupaya temukan nama yang cocok, gampang didengar, gampang diingat serta sudah pasti unik. Mendadak salah seseorang dari tim mengatakan “Monggo”.

“Yes! Lantas ada rekan yang katakan monggo, ” sebutnya.

Menurut Thierry, “Monggo” yaitu satu kata dalam bhs Jawa yang bermakna “silahkan”. Kata itu senantiasa dipakai oleh beberapa orang Yogyakaarta sembari mengacungkan ibu jari, maupun saat kita melalui di depan orang, dan ketika kita mengundang orang masuk ke tempat tinggal atau meninggalkan tempat tinggal seorang.

Akan tetapi beberapa orang yang bukanlah datang dari Yogyakarta memakai kata “Monggo”. Nama itu begitu melukiskan budaya Jawa, kota Yogyakarta, dan nama yang pas untuk cokelat buatan Thierry.

“Monggo itu familiar dengan orang Jawa serta sudah pasti bermakna begitu ramah serta nyaman waktu disampaikan. Bila saya katakan juga pas memadukan cokelat dengan kata “Monggo” serta itu cocok sekali. Lantas kami tunjukkan dikemasan cokelat lantas di jual ke ritel serta supermarket, ” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *